Ketika Visi Beradu Rasa: Debat Calon Kades Paling Mengesankan di Tirta Jaya
Malam itu, Balai Desa Tirta Jaya disulap menjadi panggung demokrasi yang tak biasa. Bukan gedung mewah berpendingin udara, melainkan sebuah aula sederhana dengan lampu gantung yang sedikit berkedip, kipas angin yang berputar lesu, dan aroma kopi tubruk bercampur asap rokok kretek yang memenuhi udara. Ratusan pasang mata, dari kakek-kakek bertopi caping hingga anak muda berkaus oblong, duduk bersila di tikar pandan, menantikan momen yang mereka sebut “Panggung Adu Rasa” – debat calon kepala desa.
Biasanya, debat kepala desa tak jauh beda: janji infrastruktur, program pertanian, atau masalah sampah. Tapi di Tirta Jaya, kali ini berbeda. Panitia Pilkades, yang dikomandani oleh Pak RT Sudiro dengan kumis tebalnya, memutuskan untuk membuat terobosan. "Kita mau lihat, bukan cuma janji di atas kertas, tapi bagaimana hati nurani calon itu bicara!" serunya saat membuka acara, disambut tepuk tangan riuh.
Dua sosok duduk di kursi depan, menghadap kerumunan. Pertama, Pak Karta, petahana yang dikenal bijaksana, berumur, dan tutur katanya tenang. Ia adalah sosok yang merawat tradisi, bapak yang dihormati semua. Di sebelahnya, Ibu Sari, pendatang baru yang energik, lulusan perguruan tinggi di kota, membawa angin segar modernisasi. Kontras yang mencolok, seperti padi dan drone.
Sesi pertama berjalan normal. Pak Karta bicara tentang pentingnya irigasi yang lancar, gotong royong membersihkan selokan, dan melestarikan kesenian kuda lumping. Suaranya menenangkan, seperti air sungai yang mengalir pelan. Ibu Sari memaparkan visinya tentang desa digital, pelatihan UMKM bagi ibu-ibu PKK, dan membangun homestay untuk menarik wisatawan. Bicara Ibu Sari berapi-api, penuh semangat anak muda. Warga mengangguk-angguk, sesekali berbisik, membandingkan.
Namun, kejutan sesungguhnya datang di sesi kedua, yang diberi nama unik: "Tantangan Kopi Pagi dan Kisah Sepotong Singkong."
"Baik Bapak dan Ibu calon Kades," ujar Pak RT Sudiro sambil menyesap kopi hitamnya, "Kita semua tahu, desa kita ini punya banyak masalah. Tapi yang paling sulit diatasi itu bukan fisik, melainkan masalah hati. Terkadang, semangat kebersamaan kita luntur, ada yang malas ikut kerja bakti, ada yang egois dengan tanahnya. Sekarang, saya minta Anda berdua, dalam waktu tiga menit, ceritakan: bagaimana cara Anda akan menyatukan kembali semangat kebersamaan warga yang mulai renggang, bukan dengan aturan atau anggaran, melainkan dengan sebuah cerita atau tindakan yang paling sederhana dan menyentuh hati?"
Suasana hening. Para calon tampak berpikir keras. Ini bukan tentang program, ini tentang empati.
Pak Karta maju pertama. Ia mengambil napas dalam-dalam. "Waktu saya kecil, almarhum bapak saya sering bilang, ‘Kalau mau tahu watak seseorang, lihat bagaimana ia membagi sepotong singkong rebus di tengah lapar.’ Suatu pagi, kami ada sepuluh orang di ladang, hanya ada satu singkong. Bapak memotongnya jadi sebelas, satu untuk dirinya, sepuluh untuk kami. Tapi bagiannya sendiri paling kecil. Beliau bilang, ‘Rezeki itu seperti singkong, kalau dibagi dengan ikhlas, rasanya lebih manis dari madu.’ Jadi, kalau ada warga yang mulai jauh, saya akan datangi rumahnya, saya ajak dia duduk, ngopi, dan saya ceritakan kisah singkong itu. Saya akan ajak dia merasa lagi, bahwa kebersamaan itu seperti singkong rebus, kalau dimakan sendiri, hambar. Kalau dibagi, nikmatnya sampai ke tulang."
Suara tepuk tangan pelan, namun hangat, mengiringi Pak Karta kembali ke tempat duduknya. Beberapa ibu-ibu terlihat mengusap mata.
Giliran Ibu Sari. Ia tersenyum tipis. "Pak Karta dengan singkongnya, saya dengan lagu anak-anak. Dulu, setiap sore, anak-anak Tirta Jaya itu berkumpul di balai ini, menyanyikan lagu ‘Naik-Naik ke Puncak Gunung’ atau ‘Ampar-Ampar Pisang’. Sekarang, mereka lebih sibuk dengan gawainya. Semangat kebersamaan itu hilang karena interaksi tatap muka berkurang. Kalau saya terpilih, saya akan adakan ‘Senja Bercerita dan Bernyanyi’. Setiap minggu sore, kita kumpul, bukan untuk rapat, tapi untuk mendongeng dan bernyanyi bersama. Saya sendiri yang akan memimpin. Kita akan nyanyikan lagu-lagu lama, dan setiap baitnya, kita kaitkan dengan nilai kebersamaan. Misalnya, saat menyanyi ‘Di Sana Gunung, Di Sini Gunung’, kita ingatkan bahwa sejauh apapun kita merantau, desa ini adalah rumah yang menyatukan. Dengan cara itu, bukan hanya anak-anak yang kembali akrab, tapi orang tua juga ikut merasakannya lagi. Dari nyanyian dan cerita, kita bangun lagi jembatan hati yang mulai retak."
Kali ini, tepuk tangan lebih riuh, bercampur tawa dan sorakan "Hidup Ibu Sari!" Suasana menjadi cair. Para warga saling pandang, seolah baru menyadari sesuatu yang hilang dari desa mereka.
Debat malam itu tidak diakhiri dengan janji-janji muluk, melainkan dengan renungan. Pak RT Sudiro menutupnya dengan senyum lebar. "Malam ini kita tidak hanya mendengarkan program, tapi juga merasakan denyut nadi calon pemimpin kita. Ada yang menawarkan kehangatan masa lalu, ada yang mengajak menatap masa depan dengan keceriaan. Pilihlah dengan hati nurani, karena desa ini butuh pemimpin yang tak hanya cerdas, tapi juga punya rasa."
Malam itu, warga Tirta Jaya pulang dengan perasaan campur aduk. Mereka tidak hanya membawa pulang janji, tapi juga sebuah kisah singkong dan melodi lagu anak-anak. Debat itu mungkin tidak mengubah siapa yang akan mereka pilih, tapi setidaknya, ia berhasil menghangatkan kembali jiwa-jiwa yang haus akan kebersamaan di tengah hiruk pikuk politik. Dan itu, jauh lebih menarik daripada sekadar angka-angka anggaran.








